Wednesday, October 12, 2016

Benarkah Demam IPhone 7 Hanya Demi Gengsi?

Benarkah Demam IPhone 7 Hanya Demi Gengsi?



Siapa di dunia ini yang tidak mengenal iPhone? Sejak generasi pertamanya diluncurkan pada 2007, telepon selular pintar rancangan Apple Inc. itu telah menjelma sebagai sebuah produk cultyang menjadi bagian integral dari citra prestisius dalam gaya hidup kontemporer.

iPhone adalah lini bisnis paling penting yang menjadi urat nadi Apple Inc. Setiap kali perusahaan yang didirikan oleh trio Steve Jobs, Steve Wozniak, dan Ronald Wayne itu menerbitkan laporan keuangan, seksi penjualan iPhone selalu menjadi sorotan utama.

Ponsel yang menggunakan sistem operasi iOS itu menjadi tulang punggung dan sumber profit andalan dari Apple Inc. Merek itu juga meraup puluhan juta penggemar fanatik (biasa disebut Apple fanboy) yang tersebar di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Setiap kali Apple bersiap meluncurkan generasi terbaru iPhone, dunia mengantisipasinya dengan ekspektasi tinggi. Bahkan, di beberapa negara, para fanboy rela menginap di depan Apple Store hanya untuk menjadi yang pertama dalam mendapatkan iPhone terbaru.

Demam iPhone itu kembali melanda banyak warga dunia saat Apple meluncurkan generasi ketujuh dari telepon genggam berlogo apel tergigit itu pada September. Imbas peluncuran iPhone 7 begitu dahsyatnya, sampai-sampai memengaruhi ekonomi beberapa negara.

Di China, misalnya, indeks konsumerisme di Hangzhou, Provinsi Zhejiang melejit drastis pada 16 September saat iPhone 7 resmi diluncurkan di Apple Store kota tersebut. Di Taiwan, ledakan belanja iPhone 7 mengerek nilai tukar dolar Taiwan ke rekor tertinggi dalam 5 tahun.

Tak ketinggalan dengan negara-negara lain, para Apple fanboy di Indonesia pun dilanda demam iPhone 7. Padahal, Apple belum secara resmi meluncurkan produk terbarunya itu di pasar terbesar Asia Tenggara ini.

Namun, para die-hard fans iPhone di Tanah Air tidak keberatan menginden pembelian generasi ketujuh di luar negeri. Harga yang harus mereka bayar untuk ponsel pintar prestisius itu pun luar biasa mahalnya, jika dibandingkan dengan harga resmi di AS.

Untuk diketahui, iPhone adalah produk yang didesain oleh para insinyur Apple di AS, tetapi mayoritas komponennya disuplai dari Asia Tenggara dan perakitannya dilakukan di China. Namun, bagaimana bisa harga iPhone di Asia jauh lebih mahal dibandingkan di AS?

Mengapa juga masyarakat Indonesia begitu rela merogoh kocek dalam-dalam demi mengantongi gengsi iPhone 7? Mengapa iPhone menjelma menjadi sebuah ikon penting dalam kehidupan masyarakat modern saat ini?

Sebuah studi yang dilakukan oleh iPrice mengungkapkan para penggila teknologi di Indonesia, Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Filipina rela terbang ke luar negeri hanya untuk menjadi yang pertama dalam memiliki iPhone 7. Mereka tidak mau ketinggalan update.

“Para penjual gelap membeli iPhone 7 dari Singapura dan Hong Kong, lalu menjualnya dengan harga lebih mahal. Di Vietnam, misalnya, lebih mahal 14% dan di Thailand 49%,” kata Content Marketing Executive iPrice Andrew Prasatya.

Namun, sadarkah Anda bahwa harga iPhone di Indonesia adalah yang termahal kedua di duina? Ironisnya, penjualan iPhone di Tanah Air selalu mencatatkan angka fantastis. Pada kuratal I/2015 saja, iPhone 6 dan 6s laku terjual sejumlah 61,2 juta unit di republik ini.

“Sebagai tambahan dari fitur-fitur baru iPhone 7, produk tersebut kembali akan menjadi simbol status di mana pemiliknya dianggap sebagai orang kaya dan mewah di Indonesia, terlepas dari bagaimana cara dia mendapatkan barang tersebut,” lanjut Andrew.

Berdasarkan survei iPrice, estimasi harga iPhone 7 (128 GB) di AS hanya US$749. Sementara itu, di Thailand harganya US$1.340, di Indonesia US$1.268, di Filipina US$1.031, di Vietnam US$1.023, di Malaysia US$900, dan di Singapura US$897.

SEHARGA BERAS

Jika dikonversikan, harga pasaran sebuah iPhone 7 di Tanah Air setara dengan 32 karung beras 50kg-an. Seandainya tidak ada inflasi, jumlah tersebut sama dengan angka kecukupan untuk makan nasi selama 16 tahun. Bayangkan!

Harga iPhone 7 yang sedemikian mahal juga setara dengan sewa apartemen selama 3 bulan di Jakarta Pusat, atau 1 unit sepeda motor Honda Beat terbaru keluaran 2016. Lantas, bagaimana kelas menengah Indonesia bisa mengantongi handphone mahal itu?

Sekadar catatan, kelas menengah RI membawa pulang gaji rata-rata US$1,8/jam. Jadi, dengan harga iPhone 7 di Indonesia senilai US$1.268, dapat diasumsikan rerata orang Indonesia harus menghabiskan 100% gaji selama 87 hari untuk memiliki satu unit iPhone 7.

Padahal, di AS kelas menengahnya hanya perlu menghabiskan gaji 4 hari untuk membeli iPhone 7. Sebagai perbandingan lain, di Singapura dibutuhkan waktu bekerja 7 hari untuk membelinya, Malaysia 24 hari, Thailand 69 hari, Filipina 71 hari, dan Vietnam 104 hari.

Dengan pendapatan per jam yang begitu rendah, masyarakat kelas menengah di Indonesia terkesan ‘besar pasak daripada tiang’ hanya untuk membawa pulang iPhone 7 yang bahkan belum resmi diluncurkan di dalam negeri itu. Demi gengsi. Ya, hanya demi gengsi.

Harus diakui, iPhone telah mengubah peta komunikasi dunia secara drastis sejak 2007. iPhone menjadi trendsetterdalam teknologi komunikasi dan konektivitas. iPhone juga mempelopori akses dunia kepada manusia hanya di dalam genggaman tangan.

Kemunculan iPhone membuka babak baru era digital di dunia. Mindset manusia tentang komunikasi lintas batas berubah total sejak Apple memperkenalkan produk itu. Sebanyak apapun kompetitornya, belum ada yang mampu melampaui performa iPhone.

Namun, apakah semua itu sepadan dengan harga yang harus dibayar oleh kalangan berduit pas-pasan di Indonesia? Sedemikian mahalnya kah harga gengsi yang harus dibayar kelas menengah di Tanah Air?

Toh, belum juga iPhone 7 masuk ke pasaran Indonesia secara resmi, pembahasan soal proyeksi generasi kedelapan sudah mulai menghangat. Pada gilirannya, tren ‘besar pasak daripada tiang’ pun akan kembali berputar saat iPhone 8 diluncurkan pada 2017.

Previous
Next Post »