Friday, October 21, 2016

Internet Indonesia Terganggu pada Malam Jumat, Ini Penjelasannya

Internet Indonesia Terganggu pada Malam Jumat, Ini Penjelasannya

Sejumlah pengguna di Indonesia mengeluhkan akses internet yang bermasalah pada Kamis (22/9/2016) malam. Pengguna melaporkan, lambat saat membuka situs atau mengakses media sosial, baik dari ponsel maupun komputer.

Tak sedikit yang melaporkan akses internetnya mati total. Meski demikian, durasinya tidak terlalu lama dan koneksi internet kembali normal.

Gangguan akses internet dirasakan para pengguna dari berbagai perusahaan penyedia layanan. Tidak didominasi oleh pengguna dari satu operator seluler atau internet service provider (ISP) tertentu.

Apa yang sebenarnya terjadi pada jaringan internet tanah air pada malam Jumat itu?

"Ada masalah yang disebabkan miskonfigurasi di salah satu (ISP) yang tersambung ke OpenIXP," ujar Administrator OpenIXP, Johar Alam Rangkuti saat dihubungi KompasTekno, Kamis.

Masalah sebenarnya terjadi di salah satu ISP yang terhubung dengan OpenIXP. Namun, imbasnya ke seluruh ISP dan operator telekomunikasi yang terhubung dengan hub internet tersebut.

Sebagai informasi, OpenIXP menaungi sebagian besar ISP dan penyedia layanan internet lain yang beroperasi di Indonesia. Trafik internet Indonesia pun sebanyak kurang lebih 95 persen berkutat di OpenIXP.

Pernyataan dari Johar sekaligus membantah kabar yang beredar di media sosial bahwa gangguan akses internet pada Kamis malam terjadi karena "IIX terkena serangan DDoS (Distributed Denial of Service)".

"Tidak ada serangan DDoS," Johar menegaskan.

Johar mengatakan, masalah utama bersumber dari kesalahan konfigurasi di layer-2 oleh teknisi atau administrator jaringan sebuah perusahaan penyedia layanan internet. Johar menolak untuk menyebutkan nama perusahaan tersebut.

Menurut Johar yang juga menjabat sebagai ‎Chairman Internet Data Center Indonesia, kejadian salah konfigurasi ini sudah terjadi sejak tahun 2000 silam dan sampai sekarang masih sering terulang.

"Dalam setahun, bisa terjadi berkali-kali oleh ISP atau jaringan yang berbeda-beda, yang disebabkan oleh admin network baru," kata Johar.

Salah satu insiden salah konfigurasi, yang sempat mencuat di media, terjadi di jaringan internet Indosat pada tahun 2014 lalu. Imbasnya kala itu tak hanya mengganggu layanan operator tersebut tetapi juga jaringan internet global.

Baca: Fakta-fakta di Balik Tumbangnya Jaringan Indosat

Sumber masalah tumbangnya jaringan Indosat berasal dari kesalahan konfigurasi BGP layer 3.

BGP adalah inti dari protokol routing internet yang menjadi tulang punggung dari jaringan internet dunia. BGP bisa diibaratkan sebagai sebuah cara satu router berkomunikasi dengan router lainnya.

Semua router di internet menganut prinsip "saling percaya" dan ada ratusan ribu BGP router yang juga "saling percaya". Jika BGP salah dikonfigurasi, router ISP A akan memberikan alamat yang salah ke router B. Imbasnya, jika ada pengguna membuka jaringan/server sebuah situs atau layanan, maka akan bermasalah.

Untuk kejadian kali ini, menurut Johar, terjadi kesalahan di konfigurasi layer 2.

"Bahasa teknisnya, Broadcast Storm di layer-2. Masalah layer-2 pastinya lebih parah dari layer-3, jadinya (masalah yang sekarang) lebih parah dari Indosat," katanya.

Meski masalahnya disebut lebih besar, imbasnya ternyata tidak terlalu masif dan cakupannya cuma nasional bukan internasional.

Menurut Johar, masalahnya sebenarnya parah namun karena sudah berkali-kali terjadi selama 16 tahun membuat penanganan masalah menjadi lebih cepat.

Johar mencatat, tahun ini saja ada lima hingga enam kali kejadian, yang separah atau lebih parah dari insiden tadi malam.

"Sudah bisa ketebak masalahnya, penanganan biasanya cepat dan di sisi user cuma terasa selama 20 sampai 30 menit internetnya melambat," ujar Johar.

Penanganan masalah yang cepat tersebut membuat pengguna merasa semuanya baik-baik saja dan dianggap bukan kejadian 'mati internet' yang parah.

"Positifnya, nggak jadi masalah yang besar karena nggak ada yang 'terganggu' parah," ujar Johar.

Namun karena efeknya tidak parah, menurut Johar, administrator network di ISP yang salah mengonfigurasi tidak merasa telah membuat sebuah kesalahan fatal. Karena gangguan hanya terjadi selama 10-20 menit dan sudah normal lagi.

Ke depannya, agar masalah yang sama tidak terulang, Johar menyarankan kepada administrator jaringan untuk tidak merasa paling tahu soal jaringan internet, meski sudah sekolah komputer atau punya sertifikat dari vendor.

"Biasanya karena mereka tidak pernah mau belajar atau mendengar masukan orang lain. Jadinya selalu bikin konfigurasi yang salah," kata Johar.
-- kompas tekno ---

Previous
Next Post »